Thursday, October 20, 2011

The Beginning / part two

Halo, apakabar vibenatics ? Minggu ini saya lagi, Handy yang akan mengisi artikel di Soulvibe Journal ini. Gimana ? Kalian udah nggak sabar nunggu lanjutan cerita saya 2 minggu lalu ya?hehe. Nah, kalo begitu sekarang saya bakal lanjutin ceritanya ya. Tapi, bagi yang belom baca part one, sebaiknya sebelum baca yang ini, kalian baca tulisan saya yang The Beginning part one dulu ya.

Setelah resmi terbentuk, Nusieven mulai manggung di event event private seperti birthday party. Nusieven sendiri namanya diambil dari penggabungan bahasa Sunda dan bahasa Jerman, Nu yang maksudnya “Yang” dan Sieven yang maksudnya “Tujuh”, jika digabung menjadi Yang Bertujuh, karena personil kami memang ada 7 orang, hehe. Waktu itu kami memainkan lagu-lagu dari Justin Timberlake, Prince, Black Eyed Peas, Usher, BoyzIIMen, dan Chrisye. Sampai suatu saat Nusieven diundang untuk bermain di beberapa pensi, salah satunya PL Fair. Saya mulai optimis dengan masa depan band ini.

Pada suatu hari di bulan Oktober 2003, keyboadis kami, Sri Hanuraga mengundurkan diri dari band karena dia mendapat beasiswa kuliah musik di Belanda. Kami sempat shock karena pada saat itu kami mulai lumayan mendapat tawaran untuk manggung. Setelah Aga mengundurkan diri, Nusieven menjadi tidak jelas, karena kami kesulitan mencari keyboardis pengganti yang sepadan dengan Aga. Semangat menurun dan bisa dibilang non aktif untuk sementara. Padahal saat itu saya baru saja memutuskan untuk mengundurkan diri dari band lama saya yang bernama Funushi dengan alasan akan fokus di Nusieven.

Di tengah bulan November saya pribadi ditawari untuk bermain di sebuah event yang disiarkan langsung di TV,  Indosiar. Konsep yang diminta adalah band berpersonilkan anak anak muda dengan musik segar seperti RnB atau Pop Jazz berkolaborasi dengan Andien dan menyanyikan lagu “Warna” dari Sheila Majid. Tanpa pikir panjang saya langsung mengambil tawaran tersebut, padahal bisa dibilang saat itu saya tidak punya band yang sedang aktif. Saya langsung mengontak Caesar, Bayu, dan Asa. untuk bertemu saat itu juga. Akhirnya kami sepakat untuk ngeband bareng lagi dan segera mencari keyboardis. Bayu mengontak Abenk yang ternyata sudah berkuliah di Jakarta, saya mengontak Ouvan dan mereka berdua pun setuju untuk melanjutkan band lagi.

Tiba-tiba saya ingat, pada tahun 2002 Asa pernah meminta bantuan saya untuk menjadi additional player di bandnya, dan saat itulah saya kenal dengan Frans yang bermain piano di band itu. Langsung saya minta Asa untuk mengajak Frans jam session di studio dengan kami. Frans adalah seorang pianis yang sudah sangat berpengalaman, saat itu dia bermain piano sebagai session player untuk Rio Febrian, Donny Suhendra, dan tergabung dengan band top 40 yang sudah sangat berpengalaman. Saya sangat tidak yakin Frans mau bermain musik dengan kami, anak anak ABG yang baru akan merintis karir, saya tidak berharap banyak dia akan datang ke studio saat itu karena saya takut kecewa jika dia tidak datang, jadi saya juga mengontak Rio dan mengajak dia untuk jam session juga di hari yang sama. Saya juga mengajak satu orang vokalis lagi bernama Vigi demi kebutuhan pecah suara para vokalis, karena saat itu repertoar lagu-lagu yang kami bawakan butuh pecahan vokal yang sangat lebar dan penuh.


Waktu itu hari Rabu malam di bulan November 2003, saya lupa tanggal pastinya, kami latihan lagi setelah hampir sebulan tidak berjumpa. Asa yang mengatur jadwal latihan hari itu di Arci studio Menteng. Saya orang pertama yang sampai di studio, begitu masuk studio ternyata di studio sudah ada Frans yang sedang bermain piano, dan Rio pun juga hari itu datang membawa keyboard tritone barunya. Setelah semua datang dan lengkap, saya langsung menginformasikan mengenai tawaran manggung di TV Indosiar  yang sudah saya ambil. Alhamdulillah semua mau dan sangat semangat untuk bermain di event itu. Kami langsung latihan dan sangat menikmati latihan hari itu. Untuk event itu kami latihan intens untuk membuat aransemen. H-1 perform di event itu, panitia menelfon saya dan menanyakan nama band saya. Kami pun baru sadar bahwa kami belum punya nama band, dan tidak mungkin memakai nama Nusieven lagi karena personil kami ada 9 orang. Akhirnya dari pihak panitia langsung secara spontan memberi nama band kami “B’sembilan”, plesetan dari kata Bersembilan. Kami pun nurut saja karena memang tidak ada renana kedepan dengan band ini, kami hanya menganggap ini project sekali main dan bubar. Personel B’sembilan adalah Ramadhan Handy (Bass), Bayu Adiputra (Vocal), M. Caesar Rizal (Drum), Adhika Satya Asa (Gitar), Rizqi Abenk Rizaldi (Vocal), Ouvan Rahmat (Vokal), Frans Martatko Filman (Piano), Adrianto Rio Seto (Synthesizer), Vigi Vinno (Vokal).

Akhirnya tiba juga waktu yang dinanti, kami untuk pertama kalinya akan perform secara live di TV dan disiarkan secara langsung juga. Rasa tegang, senang, dan panik bercampur jadi satu. Tapi Alhamdulillah kami berhasil bermain dengan baik dan mendapat respon yang sangat positif dari banyak pihak. Setelah event tersebut, kami dibanjiri tawaran manggung di berbagai event. Pensi, pesta ulangtahun, prom night, dan lain-lain. Rencana menjadi band project pun batal, kami sepakat untuk serius di band ini. Nama B’sembilan pun mulai diperhitungkan di kalangan anak muda pada saat itu. Bayu dan Abenk pun mengundurkan diri dari band mereka terdahulu Black Coffee untuk serius dan fokus di B’sembilan. Kami resmi berdiri sebagai sebuah band yang digemari anak anak muda Jakarta pada saat itu. Di tengah 2004, terjadi kesepakatan dari B’sembilan dan Vigi, salah satu vokalis kami, untuk tidak meneruskan bermusik bersama karena beberapa alasan yang bersifat internal. Mulai Juli 2004 kami berjalan dengan 8 orang personil, tidak lagi 9 orang. Tapi nama band kami sudah terlanjur popular saat itu, jadi kami memutuskan untuk tidak mengganti nama B’sembilan.


Dalam formasi B'9 bersama Christian Sugiono
setelah shooting untuk non-album "Masih" Video Klip.
Directed by Angga Dwimas Sasongko


Akhir tahun 2004 kami memutuskan mencari seorang manajer untuk mengelola semua urusan bisnis kami dengan baik, sebelumnya kami tidak punya manager, job yang datang langsung dihandle oleh para personil, akibatnya banyak hal yang terlewatkan dan jadi berantakan. Disaat yang bersamaan, kami berkenalan dengan seorang anak muda bernama Angga Dwimas Sasongko. Seorang mahasiswa komunikasi UI yang sangat berbakat di bidang film dan video klip. Pemuda nekat yang berani mengambil resiko besar untuk karirnya. Saya pribadi menganggap dia orang gila yang akan sangat sukses di kemudian hari, dan terbukti sekarang dia salah satu sutradara film & video klip papan atas di Indonesia. Saat itu dia datang menawarkan kami untuk membuatkan video klip kami. Kebetuan kami baru saja merekam lagu ciptaan kami sendiri secara home studio. Judul lagu itu adalah “Masih”, lagu yang kemudian hari ada di album perdana Soulvibe. Setelah kami membuat video klip, Angga menawarkan diri untuk menjadi manager kami, tawaran itu langsung kami sambut dengan gembira.

Desember 2004 Angga Sasongko resmi menjadi manager B’sembilan. Awal 2005, bulan Januari, lagi-lagi kami harus kehilangan personil lagi, Ouvan vokalis kami mengundurkan diri  karena dia mengikuti audisi Indonesian Idol dan berhasil lolos sampai babak 40 besar. Kami tetap berjalan lancar dengan 7 orang personil. Kami pun sebenernya saat itu sedang membicarakan masa depan band ini, kami sepakat untuk mulai menulis lagu karya kami sendiri dan akan merekamnya untuk single di radio dan demo untuk ditawarkan ke label label rekaman. Nama band pun sedang kami pertimbangkan untuk diganti. Konsep musik juga coba kami bicarakan supaya lebih pasti dan fokus. Saat bernama B’sembilan, konsep kami belum kuat, kami membawakan lagu lagu orang yang kami suka dan diaransemen ala kami. Usher, Justin Timberlake, BoyzIIMen, Jay-Z, Toto, Kci & Jojo, Brian Mcknight, Babyface, Robin Thicke, Chrisye, Slank, sampai Project Pop kami bawakan di panggung. Terlalu luas dan beragam, tidak fokus.

Hampir setiap hari, kami berkumpul dan brainstorming untuk konsep baru band kami sampai kami menemukan formula baru. Selain membuat lagu sendiri, nama pun akan diganti, personil tinggal 7 orang, dan konsep musik baru dan performance yang lebih segar. Di studio kami mulai meracik jenis musik kami sendiri yang menggabungkan berbagai genre musik. Dari Soul, RnB, Jazz, Dance, Acid Jazz, Rock, New Wave, Fusion, Funk, Motown, dan Pop, kami leburkan jadi satu. Lagu orang yang kami bawakan juga makin fokus ke satu circle musik. Kami memainkan lagu-lagu dari Prince, Musiq Soulchild, Michael Jackson, Maxwell, Earth Wind & Fire, Al Green, Jackson 5, dan lain-lain. 


Perform sebagai SOULVIBE 

Kami senang sekali saat itu karena berhasil membuat formula baru untuk kami. Dan saat memainkan musik itupun kami sangat enjoy. Nama band pun akhirnya bisa resmi dipastikan. Hari bersejarah hadir kembali untuk kami. 28 Maret 2005 resmi berdiri sebuah band berpersonilkan Ramadhan Handy (Bass), Bayu Adiputra (Vocal), Rizqi Abenk Ranadireksa (Vocal), M. Caesar Rizal (Drum), Frans Martatko Filman (Piano), Adhika Satya Asa (Guitar) dan Adrianto Rio Seto (Keyboard & Synthesizer) dengan nama SOULVIBE, dan spesialnya, hari itu bertepatan dengan pertama kali kami manggung dengan nama SOULVIBE… Sound of Universal Love;Various Instrument Behavior…

2 comments:

  1. inspiring banget, untuk jgn prnh give up dalam bermusik :)

    ReplyDelete
  2. perjalanan yang panjang memang membuahkan hasil yang keren yah :)

    ReplyDelete